Showing posts with label bimadompu. Show all posts
Showing posts with label bimadompu. Show all posts

Tuesday, November 22, 2016

Kelembo ADE, kalimat yang sungguh ajaib dari Bima-Dompu

Bismillah
Kalembo ade, mungkin ada yang sudah pernah baca kalimat ini sebelumnya :). Atau yang pernah baca novel Pipiet Senja mungkin bisa langsung connect, karena salah satu judul novelnya adalah Kalembo Ade, wallohualam, saya pun belum pernah baca juga.

Kalembo ade, kalimat ini sangat sering terdengar kalau lagi di rumah.. Biasanya kalo bertamu ke rumah orang/sanak saudara, si tuan rumah selalu bilang, setelah menghidangkan beraneka makanan: 'kalembo ade, cina' (cina = saudara). Atau, kalo ada yang ditimpa musibah, biasanya ditenangkan dengan kalimat : 'kalembo ade amancawa, kawarapu Ruma' (artinya: kalembo ade saudariku, ingatlah Allah). Atau, kalau kita mendapatkan bantuan, si penolong biasanya bilang : "kalembo ade amania" (kalembo ade saudaraku).

Tapi sebenarnya masih sulit juga mencari padanan artinya dalam bahasa Indonesia, kalau secara morfologinya ; kalembo ade, lapangkan hati (kalembo=lapangkan, ade=hati).. secara semantik mungkin lebih ke 'SABAR'. Nah keunikannya di sini, kalo pas bertamu disuguhin hidangan atau menu yang cukup banyak dan  variatif, si empunya tetap bilang:"kalembo ade…kalembo ade…"

Itulah alasan mengapa saia menulis, Kalembo ADE kalimat yang sungguh ajaib, ada makna inner peace yang magic bila mengatakan atau mendengar KALEMBO ADE.



* amancawa = sista,, sister
* amania      = brother

Kalembo ADE

Tuesday, April 5, 2011

:rumah

Bismillah ^^

kemarin sore, ketika di jalan aku melihat semburat jingga yang cukup indah
pengen ngambil gambarnya rada kesulitan juga
karena berada di antara gedung-gedung
hidup di kota unik ya
menikmati yang gratis pun harus berpeluh-peluh

beda banget kalau lagi di rumah
aku bisa melihat semuanya dengan bebas sebebas-bebasnya

pengen lihat sunrise
aku cukup membuka pintu dapur yang tepat menghadap ke timur
mentari pagi siap menyambut dengan hangat
tersenyum di antar bebukitan
hangatnya berasa banget

pengen lihat sunset
ya Allah, aku cukup duduk di tangga depan rumah dong
sejenak menoleh ke barat
subhanalloh, nuansa jingga keemasan begitu indah

kalau ingin  menikmati rasa yang lebih
cukup motoran ke dermaga
tak jarang aku jalan kaki dengan adik-adikku
yang jaraknya hanya 5 menit dari rumah
di sana bakal disuguhi lansekap khas pantai
pasir putih merica, lautan dengan batas gunung tambora
tampak gagah mengantar sunset yang sempurna
aku suka kombinasi warnanya
merah, jingga, gold, dan terkadang biru dan hitam
menyenangkan sekali
biasanya ba'da adzan magrib aku langsung kembali
atau kadang mampir di masjid Paropa yang hanya berjarak 20 meter dari dermaga kecil itu

kalau sudah di atas jam 7 malam
langit bagai beratap bintang
benar kata sepupuku waktu dia liburan ke rumah
'bintangnya rame banget, beda sama jakarta yang bintangnya bisa dihitung'
saat itu aku nanggapinnya biasa aja
tapi kalau sudah di sini memang beda siy
bintangnya dikit
ga bisa membedakan besoknya bakal hujan atau panas hhe

lain lagi kalau soal makanan
seafood yang masih segar, terasa gurih di lidah
mau cumii,, kepiting,, udang,, kerang-kerang,, ikannnnnnnnnnnnnnn
apa aja boleh
sluurp..
bisa dibakar, goreng, atau masak a la masing-masing
*lagi kangen ikan terbang/indosiar hohho*

di rumah emang nyenangin...
hayooo pulang de...
:D

Kalembo ADE
*curcol homsick*


Monday, March 21, 2011

Coki: seorang adik kecil yang sedang sakit

Bismillah ^^

Tangis melengking seorang balita mungil disebuah lorong gubuk beratap setengah seng dan setengah genteng seolah menahan pedih kesakitan. Suara itu membahana terdengar saat memasuki sebuah halaman rumah bapak Muhsinin (29) warga RT 09/RW 04 Desa Maria Kec. Wawo kab. Bima NTB.

Halaman rumah yang rimbun dan sejuk oleh pepohonan membawa nuansa tersendiri dalam ruang-ruang ketentraman, ketenangan dan kesejukan jiwa. Namun apa dikata rimbunan pohon yang mengantarkan kesejukan bagi siapa pun dibawahnya seakan sirna oleh suasana jerit kesakitan dan kepedihan anak pertama dari pasangan Muhsinin dan Hadijah (26). Balita itu bernama Coki (3), merontak kesakitan dalam ‘bahasa tangisan’ seorang balita yang menyekat hati.
Setiap hari, dinding tembok dan segenap pepohonan yang ‘merimbuni’ rasa sakit Coki sudah tidak asing lagi mendengar jeritan-jeritan pedih seorang anak setelah kepalanya menderita penyakit pembesaran kepala ( hydrochepallus ). Penyakit yang diderita oleh Coki diakibatkan akumulasi cairan dalam otak, sudah 3 tahun terakhir Coki menderita akibat hydrochepallus yang dialaminya. Kni pembesaran pada bagian kepala Coki telah diameter 30 cm.


doaku dari jauh.. semoga lekas sembuh dek..
:(

Tuesday, March 8, 2011

perjalanan ke Tambora *

Bismillah ^^

baru saja ketemu satu blog dari saudara sesama Dompu lagi, blognya mas Shavaat ,
ada catatan perjalanannya ke gunung Tambora,
bagi MPers yang pengen tau tentang Tambora,, bisa baca jurnalnya yang ditulis dalam dua bagian, edisi I dan edisi II
monggo ditengok..

VISIT DOMPU 2012 !!

kalembo ade^^

*copast link

Tuesday, February 8, 2011

[Bima-Dompu] Puisi Dana Mbojo, Dana Mbari *

Bismillah ^^

alhamdulillah, ketemu lagi dengan puisi ini
puisi yang pernah dibaca oleh penulisnya waktu aku SMA

berikut puisinya,,
semua tentang Bima Dompu
kampung halaman tercinta

Oleh : N. Marewo

 

Dana Mbojo, Dana Mbari

Dana Mbojo tanah keramat

Tiap inci tanah keramat dijaga para penunggu

Harimau yang menginjak Dana Mbari akan berubah menjadi Domba

 

Dana Mbojo tanah bertuah

Seluruh penghuninya berdarah Ksatria

Jagoan dan Ksatria ditanah keramat lugu-lugu dan sederhana

Kebaikan dan kesederhanaan sering disalah tafsirkan

 

Tanah Bima tanah tua

Orang-orang yang berniat busuk pasti celaka

Di Dana Mbari segala yang tersembunyi akan terkuak lewat isyarat air,

angin dan api

Penipu, pecundang, penghianat, pembohong, dan koruptor pasti merana

 

Negeri ini bukan sembarang negeri

Bungkus kelicikan serapi-rapinya

Siasati konspirasi selihai-lihainya

Tapi ingat, Roh tanah ini akan mengejar hingga ke neraka

 

Dana Mbojo berselendang akhlak, Berkerudung kebaikan

Seperti wanita agung yang terlindung rimpu dan kain jilbab

Manusianya menghargai keringat, senang bekerja keras dan rendah hati

Seperti para lelakinya yang tak mudah menyerah

 

Dana Mbari bernafaskan akhlak dan bernadi moral

Udara, air dan apinya milik kebaikan

Menolak kekotoran dan niat buruk

Darah kotor para penjahat,

Arwah para pengkhianat tak diterima di tanah ini

 

Tanah kita meranggas berselimut kemarahan

Penghuninya tak lagi mengindahkan sesama

Tercemar udara dan hasad kedengkian

Keringat, air mata dan derita nurani tercampakan

 

Negeri ini Tanah sederhana

Tak butuh orang-orang yang gila kursi dan menumpuk harta

Tak memerlukan mereka yang sombong dan omong kosong

Negeri ini tak butuh pembual

 

Anak-anak negeri hilang kendali

Generasinya kebimbangan habis teladan

Terbantai kupon putih dan pil anjing

Virus ganas yang ditinggalkan para pendurhaka

Hanguskan syaraf mereka

Dengan minuman keras dan narkotika

 

Adik-adikku kehilangan jejak

Kata-kata keramat tercemarkan, digadai dan dilelang dimimbar-mimbar

Generasiku kebingungan –gelisah

Akibat itikad politik yang serakah

Tak bersendi akhlak kebaikan

 

Kakaku tak mensyukuri nikmat

Rejeki dihamburkan dimeja judi

Menghiasi diri dengan barang mewah

Membiarkan tetangganya kelaparan

Membiarkan kaum kerabat hidup dan mati sengsara

 

Abang-abangku tak belajar dari musibah

Frustasi menghancurkan diri memamah racun

Anjuran bersabar sering tak dihiraukan

Isyarat alam dianggap cemoohan

 

Kita lupa apa dan siapa kita

Wajah kita dicermin hati tak lagi kita kenali

Kita lupa dimana kita berasal

Lupa alam kekal yang akan dituju

Wajah-wajah legam terbakar nafsu

Melupakan tetuah tempat berasal

 

Tengok anak-anak kita ngebut-ngebutan

Melupakan buku-buku, sebab ijasah sarjana diperjual belikan

Masalah gelar urusan rupiah

Mencari kerja pakai ongkos

Anak-anak frustasi tak bisa berbangga

Sebab tak dididik menghargai kwalitas

Bertebaran saling menggertak

 

Lihat mereka yang dimerk dengan tattoo

Kupingnya bocor ditusuk anting

Ibunya terjerat rentenir

Adik-adiknya yang belum tamat SMU dihamili pendatang

Ayahnya mampus kecanduan alcohol

Kakaknya masuk bui mencuri ayam

Dipinggangnya terselip belati, tak tahu mana kawan mana lawannya.

 

Dunia tak ramah lagi

Wabah duka bersetubuh dengan awan

Senyum ceria generasi Mbojo berpindah pada iklan dan film sampah

ditelevisi

Canda cerianya terbawa angin menjadi rumus untuk menghitung lottere

Pengangguran menindih, makin banyak alasan untuk halalkan segala cara

 

Lihat perempuan berwajah murung itu

Gelisah terlambat datang bulan

Pada malam yang gerimis, perempuan dana Mbojo diturunkan dari mobil

Pick Up dekat alun-alun

Seperti seikat kayu bakar yang dibanting, bunting entah dihamili siapa

AjaibÂ….bayi-bayi ajaib menggelantung ditanah ini

Anak-anak ajaib berdesakan ditanah tua

 

Kita tak hendak menjadi anak-anak durhaka

Tidak pada ayah dan bunda

Kita tak hendak menjadi adik-adik yang durhaka

Tidak pada abang-abang dan kaum kerabat

Tapi tolongÂ…Â…

Ajari kami bermain bersama

Sebab kami tak mungkin tumbuh tanpa akar

 

Lihat abang-abang kita menggadai pegunungan

Menjual hutan, melelang generasi dan tanah pusaka untuk mobil rongsokan

Lihat mereka mengendarai mayat-mayat generasi

Menjujung benda-benda

Bersilat lidah campakan nurani

Untuk kepentingan jangka pendek

Melelang akidah, diadu domba oleh alasan kerjasama dengan antek-antek

imperalis

 

Lihat mata anak-anak yang silau terkubur iklan

Tergoda program televisi

Tak mengerti mana akarnya

Waktunya habis bersama benda elektronik

Ayahnya menghanguskan uang Negara

Putrid-putrinya dihamili germo

Isyarat apa yang kamu dapatkan?

Apa yang sudah kita pahami?

Mereka tak berkemudi, Tuan

Tak punya contoh –linglung

Remuk tak berbentuk akibat ulah kita

 

Dana Mbojo Dana Mbari

Dana Mbojo Tanah Keramat

Dana Mbojo tanah tua

Dana Mbojo tanah bertuah

 

Anak-anak tanah tua saling membantai karena kampungnya dibatasi parit

Anak-anak tanah tua saling memamah akibat dusunya berbeda nama

 

Burung-burung bangkai membagikan uang dari luar negeri hingga ke desa-desa

Nyamuk, kutu busuk, kecoak, lalat tertawa kecikikan

 

Coba kamu lihat nenek tua yang membawa cucunya depan bangunan yang ia

tak kenali

Membungkuk minta uang

Katanya ada bantuan luar negeri

Tak kenal siapa ayah dan ibu angkat cucunya

Mulutnya yang berbau sirih tak dapat menyebut nama asing

 

Anak panah bergambar dollar merobek jantung janin-janin dalam rahim

Generasiku diterpa badai tiada henti

Tak habis-habis dihasud dan dikebiri

Tetapi malah kamu sibuk menjilat

Menggonggong rebut proyek dan jabatan

Hitung mereka yang keluar barisanÂ…!!!

Hitung mereka yang akan keluar barisanÂ… !!!

 

Tanah Bima bunda abadi

Anak-anaknya malu berjalan kaki

Gengsi bersepeda

Berdesakkan dijalan raya menggadai nyawa

Untuk sepotong sanjungan

Adik-adikku malu apa adanya

Digiring keluar kota

Menembus bensin dan sadel dengan darah perawan

Membayar gengsi dengan iman

 

Tanah Bima bunda abadi

Kami disini berkumpul dalam gelisah akibat orang tua kami saling menyikut

Kami disini berkumpul dalam Tanya karena orang tua kami suka dipuji

 

Dana Mbojo Dana Mbari

Merah Darah berselimut kebimbangan

 

Kami tak hendak menjadi anak-anak durhaka

Kami anak-anak para ksatria

Tak hendak bertanya dalam darah

Tak ingin melihat air mata

 

Kami anak-anak ksatria

Minta diajar menghargai diri dan memegang kata

Bukan contoh keserakahan

Kami anak-anak ksatria

Mohon dijar ber-istigfar

 

Dana Mbojo Dana Mbari

Dana Mbojo Dana Na Mbari

Nenti kacia

Lailahaillah….. Muhammadarasulullah…..

Nenti kaciapu…. Nenti….

Dana Mbojo Dana Mbari

Dana Mbojo Dana na mbari

Dana Mbojo Dana ma Mbari

 

* Dari: DANA MBOJO DANA MBARI (N. Marewo)


Wednesday, July 21, 2010

Makanan khas dou Mbojo *

Bismillah ^^
Ahad, 18 Juli 2010 kemarin, ada acara silaturrahim rutin sesepuh Bima Dompu yang sudah berkeluarga dan menetap di Yogyakarta, kali ini jatah tante Rus (adiknya babe) jadi nyonya rumah. Layaknya pertemuan yang lain, pasti ada unsur makan-makannya dan biasanya ini yang selalu ditunggu. Beruntung, seminggu sebelumnya tante dibawain daging menjangan, mbuhi dungga, sepi, pangaha bunga, pangaha sinci sampai jeruk Bima oleh keluarga dari Bima yang kebetulan ikut Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta. Cukup bisa jadi bekal untuk hidangan a la Mbojo.

Jam 09.30 WIB, tamu tamu mulai berdatangan, sementara saya bersama Diska masih menyiapkan prasmanan di samping rumah, menuliskan nama pada tiap jenis hidangan. Berikut ini sedikit gambar makanan yang sempat ada pas 18 Juli kemarin… santabe ^^

1.      Mbohi dungga

Sebelumnya saia pernah menulis tentang mbuhi dungga ini di sini, tapi biar lebih jelas saia tulis
lagi. Mbuhi dungga, berarti sambal dari jeruk,cabai dan garam yang dihasilkan
dari proses fermentasi. Sambal ini jodohnya adalah ikan bakar atau ikan teri goreng, mantap..

2.     Sia ra dungga

Sia ra dungga atau garam dan jeruk, adalah sambal khas dou Mbojo, terdiri dari irisan jeruk, bawang merah, cabai dan sedikit garam. Cukup menggugah selera, apalagi makan di pinggir pantai bersama nasi dan ikan bakar.
 
3.     Sepi


Konon katanya, sepi itu dari anak udang yang masih bayi. Rasanya memang beda siy, kalau menurutku rada aneh tapi kalau sudah digoreng dengan campuran tomat, bawang merah dan cabai, hmm enak.

4.    Uta puru

Uta puru alias ikan bakar, adalah makanan utama orang Bima dan Dompu, selain daerah kami memang daerah yang dikelilingi lautan, kami juga punya pertanyaan khas kalau soal makanan; ‘ngaha kai uta au?, atau makan dengan ikan apa? Bukan sayurnya yang ditanya, tapi jenis ikannya karena tiap rumah sudah pasti ada ikan entah itu ikan segar atau ikan kering.

5.     Uta maju

Uta maju atau daging menjangan, tau dong.. hewan bertanduk dari hutan yang punya daging berserat empuk dan bercita rasa tinggi. Daging ini masih jadi primadona di daerah saya terutama saat puasa tiba, hehehe pulang bentar lagi cing..

6.    Karamba mene

Karamba berarti uta mpida atau ikan teri, kalo mene saia tidak tau persis, yang jelas karamba mene berarti ikan teri dari Bima. Ini biasanya digoreng kering atau ditambahin bumbu atau dicampur dengan sayur asem atau pun oi mangge.

7.     Lada

Sebenarnya hampir sama dengan di Jawa, Lada sama dengan urap *pengucapan LADA-urap beda dengan LADA-rempah*. Mungkin di bumbunya yang berbeda.

8.     Oi mangge

Sebenarnya di acara kemarin, makanan ini hampir ga ada. Tapi, adikku si Ansar iseng bikin oi mangge buat konsumsi pribadi, dan kami pun menyicipnya rame-rame, kecut dan pedesnya ampun-ampunan, tapi tetap habis juga, jarang-jarang kan nyicip kuah enak gitu, dirumahku juga bakal ditegur karena kadar asem dan pedesnya yang cukup tinggi. Lihat kita makan lahap gitu, tante pun minta kita buat dan sediain itu 1 mangkuk besar. Jadilah, nongol oi mangge, yang penasaran rasanya bisa coba di rumah, gampang ko.. Caranya, ambil 3 ruas asem, campurkan dengan dengan ½ mangkok air mateng ya *mangkuk bakso*, terus iris 5 bawang merah, 7-10 10 cabai dan garam secukupnya, biar berasa banget bahannya rada diulek pake sendok.

9.    Pangaha bunga
Pangaha atau jajan/kue, bunga ya bunga.. adalah panganan khas dari daerah Sila di kabupaten Bima, harganya murah meriah. Bayangin aja beli 5000 sudah dapat 1 plastik besar. Rasanya yang kriuk dan awet jika disimpan dalam wadah yang tertutup rapat cukup bisa jadi oleh oleh yang ditunggu. Bahan dan cara bikinnya, menyusul ya.. cari orang Sila dulu :d

10.  Pangaha sinci
Pangaha sinci atau kue cincin, eitss lingkaran ini bukan segede-gede cincin tapi segede gede gelang yang dibentuk 2 mirip angka 8 atau dibentuk 3 mirip logo olimpiade yang minimalis. Kalau di tempat tante kemarin, pangaha sincinya dari Bima bukan dari Dompu. Emang beda ? yups.. kalau dari Bima lingkarannya ada 3, dari Dompu lingkarannya hanya 2 tapi rasanya jangan ditanya lagi, lebih enak yang dari Dompu *ciehh*. Cara buatnya, senasib ya dengan yang di atas, tanya ke pakar dulu :d.

Yups, itu sedikit makanan dari daerah Bima Dompu, cukup sederhana dan mungkin dirasa aneh bagi MP-ers yang bukan dou Mbojo….

Kalembo ADE ^^

ket.
Dou Mbojo: orang Bima dan Dompu. Mbojo itu sebutan dari suku Bima ^^


Sunday, May 9, 2010

[sebuah upacara] SUNA RA NDOSO

Bismillah

Sambil menunggu menu makan siang di wisma Joglo, iseng temanku membuka netbuk-ku, meluncur ke folder ‘mafamz’ dan klik again ‘maNASHku’ then ‘La Rangga’. Foto foto, kegiatan sunatan adekku rupanya menarik perhatiannya dan dia minta diceritain.

Berikut sedikit hasil share-ku tadi siang.

Sunatan atau khitanan, di Dompu biasa dikenal dengan acara suna ra ndoso. Tradisi yang telah lama dilakukan sebagai salah satu wujud eksistensi agama Islam di Dompu.

Karena telah terakulturasi dalam budaya Dompu, maka ada beberapa hal yang memang diselaraskan dengan adat.

Di acaranya adekku, ada beberapa proses yang memang harus dilakukan, tapi ada juga secara ‘kesepakatan’ keluarga di-cut. Beruntung, meski aku ada di Jogja tapi tak menghalangi keluarga di rumah untuk tetap ngasih aku tugas, yup, aku dapat jatah desain dan cetak undangan plus hunting souvenir, karena di Jogja untuk 2 item tadi cukup terjangkau.

Alhamdulillah, kebagian jatah undangan, so aku bisa tau prosesnya walaupun aku ga pernah melihatnya. Berikut proses yang sempat terekam dalam acaranya Nas [ma lil bro], mungkin ada perbedaan dengan pakem yang ada karena memang sudah di-edit disesuaikan kemampuan keluarga ^^

…. 3 minggu sebelum acara ….

Musyawarah [mbolo weki]

Di sini, adalah adanya musyawarah antarkeluarga untuk menyepakati hari dan bentuk acara serta mendata sejumlah keperluan yang aka nada dalam acara itu.

…. Jelang Hari-H ….

Hari 1 [malam I]

Doa bersama [Ngaji Jama’]

Maksud dari acara ini, agar acara yang akan dilangsungkan berjalan dengan lancar tanpa gangguan yang berarti.

Pemasangan inai [Kapanca]

gambar 1 n 2[ almh. nenek sedang meng-kapanca, kapanca dari 2 guru ngaji-nya Nas]


Hal ini dimaksudkan, agar si anak merasa terhibur, dikuatkan dalam proses sunatannya nanti. Pada prosesi ini, yang memberikan inai adalah orang tua, keluarga atau tokoh masyarakat yang ada di sekitar rumah si anak.

Pemasangan keris [Compo Sampari]

Sunatan bagi seorang anak laki laki adalah penanda dia untuk masuk di gerbang ‘dewasa’. Dan kebiasaan di Dompu, simbolnya adalah keris. Tujuan lainnya, adalah agar si anak tidak gentar dalam menghadapi ‘proses sunatannya’ besok. Biasanya di sini ada wejangan dari Uma Tua/Ato Tua/Kakek atau orang yang dituakan. Yang aku dengar waktu acaranya Nas, ada quote dari Ato Tua, bahwa karakter orang dompu ada dalam 4 semangat untuk mencari kehidupan : uma mataho, wei mataho, jara mataho, besi mataho yang artinya rumah yang baik, istri yang baik, kuda yang baik dan besi yang baik untuk kehidupan.. Bagi laki-laki, carilah 4 hal itu.

Makka [Gerakan menghulu keris]

Setelah penyematan keris, ada adegan si anak ‘menghunus kerisnya’ sembari mengucapkan beberapa kalimat pendek dalam bahasa Bima, tapi waktu adekku, adegan yang ini di-cut sama ayahku untuk menghindari hal hal yang tak diinginkan dan juga adekku cukup kesulitan untuk mengucapkan kalimat heroik itu. *sayang*

 

…. Hari II ….

gambar 3 dan 4 [tamu undangan di pintu masuk 'perempuan', MC dan perangkat acara]


Arak-arakan dengan menggunakan uma lige [rumah kecil yang diusung bersama sama]

Ini dilakukan sebagai salah satu ‘announce’, bahwa anak dari rumah A akan disunat sekaligus sebagai bentuk support buat si anak, bahwa banyak yang mendoakan dia. Pas adekku, arakannya cukup dekat, cukup dari rumahku langsung ke tempat acara yang berjarak 20 m alias persis di belakang rumahku.

Khataman Al Qur’an [Hatam Qaro’a]

[Khataman Al Qur'an, tampak guru ngaji dan ayah tercinta ^^]


Mungkin ini salah satu alasan, mengapa di Dompu sunatan dan khitanan biasanya setelah umur 6-7 tahun karena memang diutamakan untuk belajar mengaji dahulu sebelum disunat. Waktu di sini, aku sempat dibuat ‘mewek’ sama adekku, soalnya sebelum khataman dia sempat nelpon aku terus bilang ‘kak, jangan dimatiin ya, dengarin Nash hatam’. Dan henfon itu dia letakkin persis di sampingnya, jadi aku benar benar mendengar suaranya dia, Alhamdulillah ya Allah, dia gag grogi sedikit pun, suara dan bacaannya lancar saja, padahal di depan 2000-an undangan ^^. Malah yang deg deg campur haru, aku yang di Jogja hhehe

Doa dan perjamuan bersama [Terkane’E dan Jambuta]


tampak suasana makan bersama, tausiyah oleh ulama Dompu [H.Salman Faris] dan doa oleh Umi Atun .


Acara ini dilakukan tepat sebelum proses sunatan berlangsung, biasanya berkisar antar 2 hingga 3,5 jam. Bersama undangan melakukan doa bersama, bermohon pada yang Maha Kuasa agar si anak yang disunat selamat, lukanya cepat sembuh, sehat kembali, bisa beraktivitas seperti biasa, menjadi anak yang sholeh dan taat pada orang tua, agama dan bangsa.

Sunatan [Suna]

Proses ini dilakukan bekerjasama dengan petugas kesehatan setempat. Biasanya, sembari mengucapkan lafadz dan dzikir pada Allah SWT. Kalau dalam foto ini, dia lagi lagi sambil telponan ma kakak-nya tercinta itu, sambil ngadu antara sakit dan geli ^^.

saat sunatan dan compo sampari ^^


Yup, itu sedikit tentang proses ‘suna ra ndoso’ di Dompu, semoga bermanfaat.


Kalembo ade


09052010


Monday, May 3, 2010

[kuliner] uta puru doco sia dungga

Bismillah

makanan, adalah hal kedua setelah keluarga yang kuingat ^^
letak Dompu yang secara geografis adalah daerah pantai cukup mempengaruhi kuliner lokal, artinya bukan makan kalo gag pakai ikan. biasanya, orang Dompu ga tanya 'makan pakai apa?'.. tapi ngaha kai uta au? atau artinya makan pake ikan apa?.
dari percakapan singkat tadi, akan terdengar jawabannya, ngaha kai uta rumalonde la'o uta mbeca parongge, ngaha kai uta puru labo lada, ngaha kai uta janga lowi saronco, atau ngaha kai uta maju ra ncango, dll.

uta atau ikan, di Bima Dompu, sebutan uta bukan hanya untuk ikan berasal dari laut, tapi semua daging yang bisa dimakan.. contoh, daging menjangan/uta maju, daging kambing/uta mbe'e, daging ayam/uta janga.

jadi, jangan heran kalo ada jawaban.. ngaha kai uta janga/makan pake ikan ayam :)

nah, kembali ke judul

UTA PURU DOCO SIA DUNGGA

ini sebenarnya umum saja

artinya, IKAN BAKAR DENGAN SEMBAL JERUK
uta [ikan], puru [bakar] , doco [sambal cocol], sia [garam], dungga [jeruk]

bahan, terserah ikan/daging apa.. yang penting HALAL dung
sambal, jeruk, garam, bawang, dan cabai *banyakin ya*

cara membuat..
ikan dibakar diatas sabuk kelapa/arang sampe matang
trus bikin sambel, ulek garem ma cabai n bawang.. ga usah dihalusin *motong motong sebenarnya lebih enak*, terus diperas sama air jeruk
udah,, siap dihidangkan..
hidangan lainnya, nasih putih anget ma uta mbeca ro'o parongge pana *sayur bening dari daun kelor*

hmm, dijamin enak.. maknyus ^^

kalembo ade


^catatan^
sudah lama ga makan daun kelor, pulang tahun kemaren ga sempat makan :(



[ceritalagurakyat] SODI ANGI

Bismillah

Waktu gempa Jogja tahun 2006, asrama IKPMD [Ikatan pelajar mahasiswa dompu] di jl. Veteran pun ikut jadi saksi, sebagai bangunan yang ikut runtuh. Atas nama solidaritas, aku dan teman teman sebagai pengurus saat itu akhirnya berberes asrama, mengumpulkan puing puing yang masih bisa dimanfaatkan, seperti televisi dan komputer. Alhamdulillah, CPU-nya selamat.. buat mengusik sepi dan biar tetap semangat, salah satu teman memutar lagu lagu Bima yang ada di komputer... Serrr.. irama dangdut ala Mbojo cukup menghibur kami yang wara wiri sambil mendata anak Dompu yang juga jadi korban gempa. Saat itu, Pemda Dompu memberikan santunan 75-150ribu per mahasiswa Dompu yang kena gempa di Yogyakarta.

nah, salah satu lagu yang diputer adalah lagu Sodi Angi.

jujur, ini kali pertama aku dan adekku mendengar lagu ini, sontak aja kami semua tertawa, liriknya lucu .. *buat yang ngerti bahasa Bima*.
lagu ini adalah duet sepasang kekasih gitu.. ^^
si cowok pengen banget cewek itu jadi istrinya, banyak hal yang bakal dia kasih, tapi si cewek ga langsung menerima, dia ngasih banyak prasyarat ^^.. luccuuuuu

sejak itu hingga sekarang, lagu Sodi Angi jadi kesukaan kami berdua.. ^^

berikut lirik plus terjemahannya ^^

Sodi Angi

mungawasi ka io nggahi nahu arie
kone lau ndeumu ti kaku lampa ndaimu

honda bou di nente, ancu nahu di nenti mu
ampo warana tandana ba ra meci su’u ra tundu 2x

podasi ne’e di wekiku amania
hanta ca da pu uma ma sempuru dua ri’ina

na ini mbua si ri’ina ku haju ka’a sara’a
na ciwi mbua rausi mada ku londo rai 2x

mungawasi ka io ngahi nahu arie
ku weli wea ku kariro ma ntika monca roro

wa’usi weli wea kariro aina du lampa rero
tanda meci ra ca’u ndai ma sama to’i 2x

poda si ne’e di wekiku amania
tu’u kaboupu uma palada bali bae

doho jambuta kai weki ndai ma mboto
wa’u si wara ede ku ngawa lalo pa ade 2x

na ndadi podasi nika ndai ta pede
ta weli menaku janga siwe mone

di cua ngaha ndai cumpu boho oi ndeu
ngenge kali cempe tanda bou ra campo 2x


terjemahannya :

klo kamu mengiyakan apa yg kukatakan
pergi mandipun ga akan ku biarkan kamu jalan sendirian

motor baru tinggal jalan, lenganku untuk kau pegang
itu tandanya kalo kita saling menyayangi 2x

klo benar menyayangi aku
bangunkan aku rumah yang bertiang dua belas

klau cuma bertiang enam, akan kujadikan kayu bakar semua
seandainya juga bertiang sembilan, aq akan pergi lari

klo kamu setuju,
akan kubelikan giwang emas yang cantik

kalau sudah dibelikan giwang, janganlah suka keluyuran lagi
tanda kasih sayang kita yang sama2 kecil. 2x

klo benar menyayangi aq
bikinkan aq rumah yang bersayap kiri dan kanan

untuk acara pesta kluarga kita yang banyak
klo sudah ada itu, aq akan langsung menerimamu 2x

klo benar2 terjadi pernikahan kita nanti
kita akan membeli ayam jantan dan betina

untuk kita makan bersama2 setelah acara “tumpah air mandi” (boho oi ndeu)
saling suap menyuapi tanda baru bersatu 2x


untuk lagunya bisa didownload di sini


yupz,, begitulah
kalembo ade

[ceritarakyat] Wadu Ntada Rahi

Bismillah

Ahad kemarin, aku dapat sms dari Nash adekku, 'kaka tau wadu ntada rahi? kaka pernah ke sana?'. Rupanya, dia dapat tugas menulis tentang situs situs lokal yang ada di Bima dan Dompu yang bernama Wadu Ntada Rahi atau batu yang menatap suaminya.

Wadu Ntada Rahi, sebenarnya adalah sebuah batu di daerah Donggo Bima. Menurut riwayat di sana, batu tersebut adalah sosok perempuan yang menunggu suaminya yang pulang melaut.Ia berdiri disitu, dari subuh hingga isya, dari hari ke hari, hingga berganti bulan pun tahun dan terbilang sampai menginjak angka tahun ke 7. Suaminya belum kunjung kembali.
Ia tetap menunggu, sampai tubuhnya menjadi kaku dan kemudian menjelma menjadi batu. Konon katanya, batu itu memang persis dengan seorang perempuan yang sedang menangis.

Aku memang belum pernah ke sana, tapi menurut cerita yang berkembang, batu itu menjadi penanda tentang cinta dan kesetiaan, tentang pengorbanan seorang istri yang berusaha setia pada suaminya ^^.

Mengingat ceritanya yang begitu dalam ^^, seorang seniman Bima menciptakan sebuah lagu yang berjudul 'Wadu Ntada Rahi' artinya batu yang menatap suaminya.

WADU NTADA RAHI

wara ku sabua hidi ngarana wadu ntada rahi
tapa ndiha ba dou di rasa ba ne’e na lao ta rahina

teka, teka na doro
ntada, ntada ka lao
ade na mala lai
ntada rahi ma lao

auku ncara ra kancaruna sampe ndadi kaina wadu
ede pa tangara kai ba dou wadu, wadu ma tanda rahi

teka, teka na doro
ntada, ntada ka lao
ade na mala lai
ntada rahi ma lao

BATU YANG MENATAP SUAMI

ada suatu tempat yang bernama batu yang menatap suami
di hadang oleh orang satu kampung karena ingin pergi ke suaminya

naik, naik kebukit
menatap, menatap termenung
hatinya yang sakit
melihat suami yang pergi

apakah salahnya, sampai dia menjadi batu
oleh karena itu di namakan oleh orang batu, batu yang menatap suami

naik, naik kebukit
menatap, menatap termenung
hatinya yang sakit
melihat suami yang pergi

Lagunya bisa didownload di sini

selamat mendengar ^^


kalembo ade


link lain



Tuesday, March 30, 2010

[Bima] dalam pakaian adat pernikahan

Bismillah

tadi lihat di 'accueil' facebook
ada foto pernikahan kawan SMA-ku

unik, tampak dalam pakaian adat Bima modern
ini aku upload di sini ya

Foto pertama
pakaian adat Bima dalam warna hijau


pernikahan Rahmat Hidayat dan Aty

Foto kedua
foto pernikahan adek kelas
dalam pakaian adat berwarna merah
merah adalah warna khas Bima



pernikahan Ayu dan suaminya :)

Ya, itu sekilas foto foto dou Mbojo dalam balutan pakaian adatnya ..

Buat 2 pasang pengantin
Barokalloh ya..
semoga jadi keluarga yang SAMARABA..
amiinn


Saturday, March 27, 2010

Ne'E ba Ade *sebuah copast*

Dongaku langi kasamadaku lenga
ku tio si ntara na ngaha kantero
doho kananu kese aka wawo kaso
samonto sara'a ku di ru'u

Do'o di ntanda, wati wara di tende
mori kese wati loa tantu maru
aka rasa dou mado'o la'o dae ra dua
mado'o la'o uma ra ina ra ama

Ku dula si pede ku ne'e poda
wara dou di loa kupedu
di marai ao... samena ra ne'e ku iu
di loa kaiku ongu ro di bage kai angi

ipi ku dahu adeku da loa ku eda
sampela sama na'e ratio ro di ne'e
siwe sama rasa manggahi ra eli raso
maloa eda di ne'e ba ade
maloa di nenti samene di nuntu

mboto poda siwe di loaku siwi


siwe bune ngge'e rompa pala ku ne'e marimpu
siwe sama kampo wati pori dou kempo
siwe ma taho di toho
ma nggahi ra eli ma raso ra alo
mataho di mode ra mori sama sampe si made

Na ndadi poda si dula ku pede
ku ka tantu poda ku nupa dou di pedu
nawara si wati ngenak mbolo wura
ku rakasi wati ntoina ai nain di reke
ku kalosa ku ade di dou saudu
di ngaha sama kai janga siwe mone


*sebuah puisi dari kawan*
terjemahan bebasnya,, ade nulis nanti sahaja
kalembo ade

masakan Bima

Bismillah

pengen masak makanan khas Bima besok pagi
coba coba surfing
alhamdulillah dapat ini "saronco peke"

saronco peke
semacam masakan berkuah yang rasanya kecut kecut pedas
dari tulang iga sapi
rasaanya enak
apalagi kalo ditambah buah belimbing
berasa banget...

berikut cara2nya:

Bahan-bahan yang dibutuhkan

  • 1kg tulang iga sapi
  • 2cm lengkuas (memarka)
  • 1 lembar daun sereh
  • 1 ikat pataha doro (daun ruku-ruku)
  • 1 buah tomat besar (potong-potong)
  • 1 gelas air asam dari 3 lembar asam matang
  • Air secukupnya untuk merebus tulang iga

Bumbu yang dihaluskan
  • 2 buah cabe besar (keluarkan bijinya)
  • 20 butir lada
  • ½ the ketumbar
  • 1 ruas jari kunyit
  • 1 tomat kecil
  • 1 sendok makan minyak goreng
  • Garam secukupnya

Cara Membuatnya
  • Rebus tulang iga sampai setengah empuk, diamkan sampai dingin,
  • setelah dingin angkat dan buang lemak-lemak yang mengambang menutupi kuah.
  • Panaskan kembali.
  • Tumis bumbu yang sudah dihaluskan setelah harum angkat dan masukkan ke dalam panci yang berisi tulang iga diikuti bumbu lainnya; tomat, sereh, lengkuas dan terakhir daun ruku-ruku (dimasukan menjelang matang/diangkat).
  • Biar segar, tambahkan juga irisan buah belimbing..
  • Siap dihidangkaan.:)
kalo da yang mo nyoba,, monggooo :)


 

Monday, December 7, 2009

[BIMA-DOMPU] Upacara Ua Pua; sejarah masuknya Islam di Bima

::Oleh:: Muhammad Noval

Suatu daerah pasti memiliki budaya dan ciri khasnya tersendiri yang bisa dijadikan sebagai simbol atau ciri khas dari suatu daerah. Begitu pula dengan daerah saya yaitu bima memiliki suatu upacara adat yang kami orang bima sebut HANTA UA PUA.
Sejarah Hanta Ua Pua ini sendiri saya tidak begitu jelas tapi menurut beberapa sumber yang berhubungan, Acara Adat UA PUA adalah suatu acara rutin dalam rangka memperingati hari lahirnya NABI MUHAMMAD SAW. tepatnya pada tanggal 12 rabiul awal.
Namun dalam acara adat UA PUA ini sendiri memiliki nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Bima yaitu dalam masa mengenang masa-masa masuknya islam di bima itu sendiri. Sebagaimana yang terdapat dalam buku Bo`
Sangaji Kai, hasil suntingan Henri Chambert-Loir dan Siti Maryam R. Salahuddin (1999)
bahwa

Islam masuk ke Bima pada hari Kamis tanggal 5 Juli 1640 M, atau bertepatan dengan tanggal 15 Rabiul Awal 1050 H. Islam pertama kali dibawa ke Bima oleh dua orang datuk keturunan bangsawan Melayu dari Kerajaan Pagaruyung yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Tanjung Emas Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat. Dua datuk yang juga berprofesi sebagai saudagar tersebut bernama Datuk Dibanda dan Datuk Ditiro. Sebagian literatur menyebut keduanya dengan nama Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro. Selain ke Bima, dua datuk ini juga dikenal sebagai tokoh utama penyebar agama Islam di Pulau Sulawesi.


Masih mengenai Hanta UA Pua tersebut menurut ibunda Hj Siti.Mariyam, SH (Ketua Majelis Adat Dana Mbojo) Sisi lain dari upacara adat Hanta Ua Pua adalah momentum silaturrahim, khususnya rakyat Indonesia bagian timur yang sudah dilakukan sejak sekitar empat abad lalu.

Namun sejak tahun 1950-an saat peralihan pemerintahan dari Kesultanan menjadi Pemerintahan Swapraja, kegiatan ini terhenti dan tidak mampu sepenuhnya dihidupkan kembali. Tapi melihat kemauan dan masih tersisanya keluarga kerjaan di bima maka proses adat ini masih bisa terlaksana dari tahun 1980-an, 1990-an sampai saat ini masih ada kayaknya (soalnya saya ikut hanya 2003 lalu). Acara Ua Pua ini sendiri selain untuk memperingati hari kelahiran nabi muhammad saw, juga masih merupakan bentuk penghormatan Sultan Abdul Kahir Ma Ntau Bata Wadu (sultan Kerajaan Bima pertama) menganugerahkan sebidang tanah yang cukup luas kepada keduanya (Sebagai penghormatan atas jasa Datuk Dibanda dan Datuk Ditiro dalam pengusiran ). Kelak, tanah pemberian Sultan Bima ini dijadikan sebagai tempat tinggal kerabat dan keluarga mereka. Seiring dengan perkembangan masyarakat, penghuni kampung tersebut kian bertambah ramai. Dan, akhirnya perkampungan tersebut diberi nama Kampung Melayu (kampung ademataho :D) yang hingga saat ini masih ada di bima dan sekarang masuk kota bima (kalau kampung ini dekat dengan kampung sarae "tempat tinggal saya").

Proses berlangsungnya acara Hanta UA Pua ini seperti yang pernah saya ikuti di tahu 2003 dulu, kita star dari kampung melayu tadi untuk mengangkat sebuah rumah mahligai yang biasa disebut Uma Lige berukuran 4 X 4 meter2 terbuka dari empat sisinya beratap dua susun dan didepan Uma lige ini terdapat sebarisan pasukan berkuda yang terdiri dari dua pasukan ahli yaitu Jara Wera (wera saat ini merupakan nama suatu daerah yang ada di kabupaten bima) dan Jara Sara`u. Jara Wera adalah pasukan berkuda yang bertugas untuk mengawal Sultan Bima, sementara Jara Sara`u adalah pasukan berkuda yang digunakan untuk mengawal tamu kehormatan Kerajaan Bima. (penunggang-penunggang kuda ini adalah para pendekar yang mengantar datuk-datuk dari Makassar yang datang ke Bima melalui Teluk Bima untuk memperkenalkan agama Islam pertama kalinya). Di dalamnya, tampak jelas disaksikan puluhan ribu pasang mata di sepanjang jalan, empat perempuan menari Lenggo Mbojo dan empat laki-laki menari Lenggo Melayu, melenggak lenggok menebar senyum sembari mendampingi Penghulu Melayu, hingga ke tempat tujuannya di kawasan daerah kerajaan atau istana kerajaan sultan bima yang biasa di sebut ASI MBOJO, ini lah rangkaian kegiatan yang berlangsung ramai karena acara ini melewati beberapa kampung yang tentu saja di tonton oleh banyak orang. Selain dari itu juga ada nilai filosofi yang terkandung di dalam Uma Lige karena terdapat sebuah kitab suci Al-Qur`an dan Ua Pua/Sirih Puan, yaitu 99 tangkai bunga telur aneka warna dan hiasan yang dilengkapi dengan sirih dan pinang, dan 99 tangkai bunga telur itu melukiskan 99 nama-nama indah Allah SWT, atau Asmaul Husna. Uma Lige ini digotong oleh 44 orang pemuda dari berbagai kelurahan/kampung di Bima karena di mana masing-masing sudut Uma Lige akan digotong oleh 11 orang. 44 orang penggotong tersebut menggambarkan 44 jenis keahlian/profesi masyarakat Bima pada masa lalu ini lah nilai filosofinya.

Dalam rangkaian Hanta Ua pua Ini juga ada kesenian dan budaya bima yang sering di pertonton kan kepada masyarakat bima yang sengaja datang tadi untuk menyaksikan proses upacara tadi dan diantaranya budaya yang di pertontonkan adalah seperti; pertunjukan keahlian dari kedua pasukan berkuda tadi dalam menunjukan keahlian mereka dan kebolehan mereka dalam menunggang kuda, setelah itu atraksi dari pasukan kerajaan yang lengkap dengan baju-baju kebesaran prajurit kerajaan bima pada jaman dulu dan biasanya mereka memperlihatkan ketangkasan mereka dalam memainkan senjata, kemudian ada tarian Perang yang memperlihatkan bagaimana seni berperang,dan sejumlah kebudayaan dan seni lainnya. Dan semoga saja Upacara-Upacara Adat seperti ini tidak hilang di telan globalisasi dan ke modern yang merajalela dimana-mana. Mari kita pertahankan nilai-nilai budaya daerah kita dan jangan lupa kembangkan objek wisata yang ada dikota kita.

kalembo ade :)gambar : uma lige

Thursday, November 5, 2009

Rute ke Dompu

Bismillah ^^

lagu mas Michael Buble *Home* mengalun lembut,, mengingatkan kenangan pulang Maret 2009.
waktu itu, aku pulang dengan E*ith *adek sepupu* dan mamanya E*ith.

singkat cerita, perjalanan kami tempuh sehari semalam
jam 6 pagi, via udara dengan rute Jogja-Surabaya, transit di sana 4 jam dan terbang lagi jam 11 siang dari Surabaya ke Mataram selama 45 menit.. sampai di bandara Selaparang, jam sudah menunjukkan 13.. WITA (selisih 1 jam).

dari bandara Selaparang kami langsung menuju terminal bis Mandalika (terminal induk di NTB) untuk menumpang bis rute Mataram-Dompu..
di sana sudah ada beberapa bis AC-NonAC menunggu,, dan kami dapat bis LANGSUNG PRIMA.. bis dengan kapasitas 45 orang.. AC ekeskutip.. *sama aja ding*
tepat jam 15.00, bis itu pun meninggalkan kota Mataram ..
perhitungan kami saat itu, sampai Dompu insya Allah jam 2 pagi, coz jarak Dompu-Mataram ada 11 jam kalau mau ke Bima nambah 2 jam lagi :)

sekitar jam 17-an, bis itu sampai di pelabuhan Kayangan, gerbang utama selat Alas, selat yang memisahkan pulau Lombok dan pulau Sumbawa (Sumbawa, Dompu, Bima),, liat peta buuu.
waktu menuju kapal, aku sempat ketemu bidan Sri, mamanya Mimi *tetanggaku waktu kecil* dan beliau sempat bilang kalo bakal ke rumah balikin kursi plastikku hehe, kursi berwarna kuning saksi hidupku dari zaman aku lahir *_*

lanjut..
penyebrangan dengan kapal Ferry membutuhkan waktu 4-5 jam..
dan sudah jadi kebiasaan, aku ga pernah bisa duduk manis di kapal,
biasanya berkeliling.. menikmati semilir angin di geladak ,atau kalau dapat ijin masuk di ruang nakhoda. Dan malam itu, aku dapat dua-duanya kawans...
bersama E*ith, kami duduk di geladak yang paling atas menikmati angin malam dan ngobrol dengan rombongan turis Kanada yang mau ke Lakey *pantai surving di Dompu  yang ombaknya sangat terkenal hhehe*. Like this !!.

Jam menunjukkan angka 20.15 WITA dan kami sudah sampai di pelabuhan Poto Tano, pelabuhan di pulau Sumbawa. Bis kami pun keluar, menapaki jalan darat, namanya jalan lintas Sumbawa yang membawa kami sampai di Dompu dan Bima.
perjalanan yang berawal manis itu tiba-tiba menjadi tak enak, bis kami mogok di daerah hutan Alas (20 menit setelah pelabuhan Poto Tano).
sampai jam 12-an malam, kami masih di situ. Alhamdulillah bisnya bisa jalan lagi dan sampai di rumah makan Sumbawa sekitar pukul 4 pagi (kalau perjalan normal, jam segitu mestinya sudah bisa sampe Dompu). setelah makan dan cuci muka, kami pun melanjutkan perjalanan lagi dengan bis yang baru bukan bis tadi.
eh malang tak dapat ditolak, malah bis baru ini lebih ngadat lagi.. selama perjalanan, bisnya cuma bisa merangkak.. pelan dan tambah pelan.. sampai kami yang di bis pun tertawa geli.. OMG,, ko bisa seperti ini hehehe *untungnya ga ada yang marah marah lho...*
yang lebih mengerikan, kalo sudah lewat jalan tanjak dan bisnya cuma bisa merayap perlahan.. dan bibir kami sudah komat kamit dengan doa masing-masing :D.
jam sudah menuju angka 6 pagi, kami belum sampe jalan perbatasan Sumbawa Dompu..
masih jauh....
akhirnya, kami sms keluarga di rumah untuk menjemput kami di Nangatumpu *teluk perbatasan Sumbawa - Dompu*
alhamdulillah, sekitar jam 11 siang.. jemputan yang kami tunggu pun datang.. horeee
setelah say gud bye dengan para penumpang di bis, kami bertiga pun langsung meluncur ke mobil EA 63** C itu..

karena merasa udah kumel banget, aku ma E*ith minta ijin pengen nyebur dulu di Nangatumpu. tapi ga diijinin ma om Ma*an coz jalan ke sananya rada jauh..  'kita mampir aja di rumah makan sekitar nanga tumpu', usul omku.

siipp..
                                               
dan kami pun mampir di RM. Putr* Nanga Tumpu, usut punya usut ternyata siempunya masih sepupuan ma ayahku.. jadilah kita dapat potongan full alias gratis.. makan ikan bakar asli lautan nangatumpu dan nyebur di lautnya yang indah..
pantainya kereen buat narsis-narsis :)),, sayang foto-foto itu ada di hape Ewith *hapeku saat itu sudah terkapar tak bernyawa euy*

setelah menghabiskan waktu 2 jam di Nangatumpu, kami pun menuju Dompu lagi..
Alhamdulillah, sampai rumah sekitar jam 3 sore dan langsung disambut dengan air dingin nan menyejukkan.
Lucunya lagi, pas di jalan Soriutu *jalan lintas Dompu* kami masih sempat papasan dengan bis yang kami tumpangi tadi,, ya Allah sampe Bimanya pasti sekitar jam 7 malam hehehe.

begitulah..

oya ini sedikit info rute buat yang mau k NTB plus ongkosnya,, tapi semua dari Jogja ya ^^:
bis:
Safari Dharma Raya, Jogja-Mataram sekitar 360-450 rb terus dari Mataram ke Dompu 120-150 ribu kalau mau ke Bima nambah 20-30 ribu.

pesawat :
Lion atau Batavia (Jogja-Mataram kisaran 600-750rb), kalo udah di atas itu disaranin jangan diambil,, tunggu pas turunnya lagi hhe
trus kalo mau lanjut perjalanan udara sampe Bima, bisa nyediain duit tambahan 350-500ribu.

sebenarnya ada perjalanan yang lebih murah,, via jalan darat, estafet dan ini cocok buat backpacker.. bisa hemat 200-300ribu.
caranya..
dari Jogja-Surabaya naik kereta ekonomi *30-an rb*,
lanjut pake bis ke pelabuhan Ketapang *25-rb*,
ongkos naik kapal *14-rb*,
pelabuhan Gilimanuk ke terminal Ubung ?? Denpasar * 30-an rb*
terus dari terminal ke pelabuhan Padangbai sekitar 35 rb
lanjut lagi naik kapal Padangbai-Lembar *25-rb* lebih mahal coz sekitar 6 jam..
dari Lembar banyak pilihan kendaraan mau menuju pantai Senggigi atau terminal Mandalika .. tarif sekuat-kuat kita nawar aja..
nah kan,, lumayan bisa hemat ongkos..

untuk info penginapan dan tempat makan,, sebenarnya bisa lebih hemat lagi kalo kita sudah punya teman di sana.. atau tipsnya: jadi tamu yang baik deh.. yang cowok make peci, yang cewek make jilbab rapi.. dijamiinn hehe

tambahan:
buat tarif bis 360-450,, harga maksimal *450* hanya terjadi kala tuslah saja.

jalan darat, selain lebih hemat.. asyiknya lagi kita bisa nikmatin alam Indonesia yang begitu indah..
mulai dari rimbunan jati, pasir putih di jawa timur, lautan selat bali, pura dan keindahan alam Bali, kota 1000 masjid Lombok, bersentuhan dengan budaya masyarakat Sasak dan Sumbawa, menikmati indahnya lampu-lampu nelayan Sumbawa di tengah malam, *like this* ato sunset di Nangtumpu *indah,, jujur ini sunset terindah yang pernah aku lihat*.. pas di sini.. jangan sampai tidur kawans.. kita bisa melihat indahnya matahari senja... sempurnaaaaaaaaa banget.

biasanya,, pak supir pun sudah tahu.. beliau suka melanin jalan bisnya..
dan kami pun *banyakan pelajar/mahasiswa yang pulang mudik/setting pas lebaran* sudah standby dengan kamera pocket atau hp seadanya.. menikmati dan mengambil gambar dibalik rimbunan pohon dan pantulan cahaya dari laut.. terkadang,, bila sudah hampir maghrib.. kami menunggu buka di sini.. *aku pernah ngalaminnya :)*.. unforgetable moment !!
buka puasa di pinggir tebing, dengan suguhan pemandangan laut dan lengkungan pasir putih yang terhampar luas bersama matahari senja yang kuning keemasan.. indah.

yup,, itu sedikit cerita tentang NTB :)

ayoo kapan ke sana..
kalo suka dengan bahasa dan budaya..
ada banyak ragam yang kita lewatin sampe Dompu dan Bima ^^,, bahasa Jawa ala Solo, ala Ponorogo.. Bali.. Sasak.. Sumbawa.. Taliwang.. bahasa Bima dengan dialek Dompu, Sila dan Bima asli :)

kalembo ade ^^


*2 gambar di atas,, gambar nanga tumpu*